Matur nuwun Gus, sampeyan sampun kersa paring pitedah babagan kamardhikan.......
sembah nuwun konjuk ing Gusti
01 Januari 2010
29 Desember 2009
RASA : NGAKU
Menyeberang dalam tatabahasa Indonesia berarti menuju seberang, juga dalam bahasa Jawa "nyabrang- menyang sabrang ". Mendarat, memasyarakat, membumi juga mengacu pada arti yang sama yaitu menuju darat, masyarakat, bumi dan berupa kata benda yang bernuansa tempat.
Lalu, bagaimana arti "mengaku atau mengakui?" misalnya dalam kalimat akhirnya dia mengaku mencuri uang rakyat, atau dia mengaku-aku sebagai pejabat, atau kalau dalam satu agama tertentu ada kata-kata mengaku dosa atau "saya mengaku". Kata dasar mengaku adalah kata benda "aku" yang bukan tempat seperti halnya darat, laut, udara, dan sedikit berbeda dengan masyarakat. Apakah aku adalah tempat? Kalau tempat, di manakah dan bagaimana wujud tempat itu? Masyarakat mungkin bisa mengacu pada tempat karena ada sekumpulan orang yang berada dalam suatu lingkungan, misalnya masyarakat Jawa, masyarakat Eropa, dll.
Yang sering kita katakan sebagai aku adalah aku secara badani misalnya dalam kalimat "aku durung mangan-saya belum makan, atau wah awakku lara kabeh- wah seluruh badan saya sakit" dan biasanya kita malah takut mengatakan AKU yang sejati, aku yang sebenarnya. Ketakutan ini karena kata yang mengikuti kehadiran aku sejati adalah kata "ngakoni-mengaku atau mengakui". Kenapa takut? Karena kata ngakoni cenderung menuntut adanya pengakuan atas kesalahan dan kita tidak mau merasa benar bahwa kita salah. Jadi tanpa sadar kita takut dengan kata ngakoni-mengaku(i) karena menunjukkan kita adalah benar-benar salah. Atau kata ngakoni bisa bernuansa sebaliknya yaitu menolak "AKU" sejati ketika kata yang kita pakai adalah 'ngaku-aku atau mengaku-aku" Penolakan itu jelas kelihatan ketika seseorang "merasa sebagai" polisi padahal dia adalah pencuri, atau "ngakune sugih". Penolakan itu bisa karena perasaan seseorang ingin diakui keberadaannya, bisa jadi karena dengan ngaku-ngaku itu mendapat keuntungan, atau mungkin saja karena ingin memenuhi impian yang tidak tercapai. Kesemua alasan itu barangkali muncul karena rasa tidak berani menerima kenyataan yang sebenarnya. Dan sebenarnya, seseorang harus siap menerima resiko kalau "ngaku-akunya' akan konangan-ketahuan, dan bisa menjadi rasa wirang-malu yang teramat sangat"
Sebenarnya kita sadar bahwa AKU adalah "tempat" dan kita tahu di mana tempat itu. Aku setiap orang adalah sama, entah itu kaya atau miskin, tua atau muda, laki-laki atau perempuan. "aku" di sini adalah "aku sejati- batin-pribadi tinggi" dan bukan "aku wadag-aku fisik", dan berada di tempat yang sangat dalam dan sangat tinggi. Sangat dalam karena kadang kita harus mencarinya bersusah payah, bahkan perlu bertahun-tahun untuk menemukannya. Sangat tinggi karena "AKU" adalah "pribadi dan kesadaran tertinggi", artinya aku adalah penjelmaan sekaligus perwakilan Sang Pencipta sendiri yang hadir dalam "aku wadag"
"Ngakoni- mengaku" adalah jalan menuju "AKU ", dan sekaligus bentuk kesadaran akan hakikat yang ada dalam badan wadag. Pada saat kita ngakoni-mengaku, sebenarnya kita sedang berada pada tempat yang sangat dalam yaitu mikrokosmos kita yang terletak jauh di dalam hati , sekaligus menjadi tempat yang sangat tinggi karena Sang Maha Tinggi lah yang kita hadapi. Sang Maha Tinggi yang berada di dalam aku sejati mengajak kita untuk menerima dan berdialog dengan aku kita. Ketakutan akan rasa malu dan tidak nyaman ketika konangan - ketahuan sebenarnya bernilai sangat kecil karena pertemuan antara "aku dengan Sang Tinggi" jauh lebih berharga karena pertemuan itu adalah hal yang sesungguhnya, bukan kepura-puraan. Ngakoni sebenarnya juga bentuk penyadaran bahwa selama ini kita terbelenggu oleh sesuatu yang tidak benar, menyiksa, menakutkan. Dalam ngakoni-mengakui, yang tanpak adalah kepasrahan dan penerimaan atas kehadiran Sang Tinggi dalam masa ke depan. Contohnya adalah :pencuri yang mengaku mencuri sebenarnya menunjukkan keberanian yang luar biasa karena dia akan pasrah kepada apa yang akan terjadi sekaligus memunculkan harapan akan rasa belas kasih. Hukuman untuk pencuri yang ketahuan tapi tidak ngakoni pasti akan lebih berat daripada tidak mengakui. Ngakoni juga membawa rasa tenang, damai dan tidak merasa dikejar-kejar. Contoh yang jelas adalah bagaimana seorang pembunuh akhirnya memyerahkan diri dan mengakui kesalahanya kepada polisi sesudah merasa dikejar-kejar arwah korban. Yang mengejar sebenarnya bukan si arwah, tapi "AKUnya "sendirilah yang menuntunya.
Jadi kalau kita "ngakoni-ngaku-mengakui" arti yang sebenarnya adalah aku yang sedang menyang AKU, menuju AKU -Sang Pencipta, dan menyerahkan hidup kita serta mengakui bahwa kita lemah, dengan keyakinan bahwa kasih dari Sang Pencipta akan mengalir, mendamaikan.
sembah nuwun konjuk ing Gusti,
Lalu, bagaimana arti "mengaku atau mengakui?" misalnya dalam kalimat akhirnya dia mengaku mencuri uang rakyat, atau dia mengaku-aku sebagai pejabat, atau kalau dalam satu agama tertentu ada kata-kata mengaku dosa atau "saya mengaku". Kata dasar mengaku adalah kata benda "aku" yang bukan tempat seperti halnya darat, laut, udara, dan sedikit berbeda dengan masyarakat. Apakah aku adalah tempat? Kalau tempat, di manakah dan bagaimana wujud tempat itu? Masyarakat mungkin bisa mengacu pada tempat karena ada sekumpulan orang yang berada dalam suatu lingkungan, misalnya masyarakat Jawa, masyarakat Eropa, dll.
Yang sering kita katakan sebagai aku adalah aku secara badani misalnya dalam kalimat "aku durung mangan-saya belum makan, atau wah awakku lara kabeh- wah seluruh badan saya sakit" dan biasanya kita malah takut mengatakan AKU yang sejati, aku yang sebenarnya. Ketakutan ini karena kata yang mengikuti kehadiran aku sejati adalah kata "ngakoni-mengaku atau mengakui". Kenapa takut? Karena kata ngakoni cenderung menuntut adanya pengakuan atas kesalahan dan kita tidak mau merasa benar bahwa kita salah. Jadi tanpa sadar kita takut dengan kata ngakoni-mengaku(i) karena menunjukkan kita adalah benar-benar salah. Atau kata ngakoni bisa bernuansa sebaliknya yaitu menolak "AKU" sejati ketika kata yang kita pakai adalah 'ngaku-aku atau mengaku-aku" Penolakan itu jelas kelihatan ketika seseorang "merasa sebagai" polisi padahal dia adalah pencuri, atau "ngakune sugih". Penolakan itu bisa karena perasaan seseorang ingin diakui keberadaannya, bisa jadi karena dengan ngaku-ngaku itu mendapat keuntungan, atau mungkin saja karena ingin memenuhi impian yang tidak tercapai. Kesemua alasan itu barangkali muncul karena rasa tidak berani menerima kenyataan yang sebenarnya. Dan sebenarnya, seseorang harus siap menerima resiko kalau "ngaku-akunya' akan konangan-ketahuan, dan bisa menjadi rasa wirang-malu yang teramat sangat"
Sebenarnya kita sadar bahwa AKU adalah "tempat" dan kita tahu di mana tempat itu. Aku setiap orang adalah sama, entah itu kaya atau miskin, tua atau muda, laki-laki atau perempuan. "aku" di sini adalah "aku sejati- batin-pribadi tinggi" dan bukan "aku wadag-aku fisik", dan berada di tempat yang sangat dalam dan sangat tinggi. Sangat dalam karena kadang kita harus mencarinya bersusah payah, bahkan perlu bertahun-tahun untuk menemukannya. Sangat tinggi karena "AKU" adalah "pribadi dan kesadaran tertinggi", artinya aku adalah penjelmaan sekaligus perwakilan Sang Pencipta sendiri yang hadir dalam "aku wadag"
"Ngakoni- mengaku" adalah jalan menuju "AKU ", dan sekaligus bentuk kesadaran akan hakikat yang ada dalam badan wadag. Pada saat kita ngakoni-mengaku, sebenarnya kita sedang berada pada tempat yang sangat dalam yaitu mikrokosmos kita yang terletak jauh di dalam hati , sekaligus menjadi tempat yang sangat tinggi karena Sang Maha Tinggi lah yang kita hadapi. Sang Maha Tinggi yang berada di dalam aku sejati mengajak kita untuk menerima dan berdialog dengan aku kita. Ketakutan akan rasa malu dan tidak nyaman ketika konangan - ketahuan sebenarnya bernilai sangat kecil karena pertemuan antara "aku dengan Sang Tinggi" jauh lebih berharga karena pertemuan itu adalah hal yang sesungguhnya, bukan kepura-puraan. Ngakoni sebenarnya juga bentuk penyadaran bahwa selama ini kita terbelenggu oleh sesuatu yang tidak benar, menyiksa, menakutkan. Dalam ngakoni-mengakui, yang tanpak adalah kepasrahan dan penerimaan atas kehadiran Sang Tinggi dalam masa ke depan. Contohnya adalah :pencuri yang mengaku mencuri sebenarnya menunjukkan keberanian yang luar biasa karena dia akan pasrah kepada apa yang akan terjadi sekaligus memunculkan harapan akan rasa belas kasih. Hukuman untuk pencuri yang ketahuan tapi tidak ngakoni pasti akan lebih berat daripada tidak mengakui. Ngakoni juga membawa rasa tenang, damai dan tidak merasa dikejar-kejar. Contoh yang jelas adalah bagaimana seorang pembunuh akhirnya memyerahkan diri dan mengakui kesalahanya kepada polisi sesudah merasa dikejar-kejar arwah korban. Yang mengejar sebenarnya bukan si arwah, tapi "AKUnya "sendirilah yang menuntunya.
Jadi kalau kita "ngakoni-ngaku-mengakui" arti yang sebenarnya adalah aku yang sedang menyang AKU, menuju AKU -Sang Pencipta, dan menyerahkan hidup kita serta mengakui bahwa kita lemah, dengan keyakinan bahwa kasih dari Sang Pencipta akan mengalir, mendamaikan.
sembah nuwun konjuk ing Gusti,
27 Desember 2009
RASA : NGALAH

Pada saat sebelum latihan Reiki, salah satu teman latihan membuat analogi yang menarik tentang kata ngalah yang tidak berarti kalah. kata ngalah disejajarkan dengan kata ngetan yang artinya menyang wetan atau pergi ke Timur, karena wetan artinya timur. Jadi ngalah sama dengan pergi ke Allah. Saya langsung tercenung dengan analogi itu.
Dalam keseharian orang Jawa, yang sekarang sudah sangat jarang terdengar lagi, kata ngalah punya makna mendalam. Seorang kakak diharapkan ngalah kepada adik, "sing tuwa ngalah- yang lebih tua lebih baik mengalah"; juga "wani ngalah luhur wekasane- berani mengalah, kemuliaanlah yang akan diperolehnya". Atau, dalam beberapa situasi muncul kata-kata "sing waras ngalah-yang masih waras akalnya mengalah saja"
Ngalahnya seorang kakak atau seseorang yang sudah tua tidak berarti mengalah dengan kecewa dan dipenuhi amarah sehingga merasa kalah berhadapan dengan adik atau orang yang lebih muda. Berani mengalah adalah kesediaan untuk menerima keadaan dengan keyakinan bahwa yang akan didapatnya pada akhir adalah kemuliaan. Yang masih waras lebih baik mengalah tidak berarti orang lian gila, tetapi sebenarnya mengajak bahwa kita yang masih bisa diberi anugerah bisa beroikir panjang lebih baik merenung dan menerima keadaan. Mengalah juga bisa dipahami sebagai waras - kesadaran tertinggi - bahwa orang yang mengalah sudah merasakan atau memahami apa yang belum dirasakan dan dipahami oleh orang yang lebih muda, jadi bisa dimaknai sebagai memberi kesempatan dan waktu kepada yang muda. Ngalah menjadi tanda menghadap Allah dan mengucap syukur atas apa yang sudah diterimanya sehingga ngalah seharusnya terjadi dalam keadaan bahagia dan penuh suka cita, bukan amarah dan kedukaan.
Ngalahnya seorang kakak atau seseorang yang sudah tua tidak berarti mengalah dengan kecewa dan dipenuhi amarah sehingga merasa kalah berhadapan dengan adik atau orang yang lebih muda. Berani mengalah adalah kesediaan untuk menerima keadaan dengan keyakinan bahwa yang akan didapatnya pada akhir adalah kemuliaan. Yang masih waras lebih baik mengalah tidak berarti orang lian gila, tetapi sebenarnya mengajak bahwa kita yang masih bisa diberi anugerah bisa beroikir panjang lebih baik merenung dan menerima keadaan. Mengalah juga bisa dipahami sebagai waras - kesadaran tertinggi - bahwa orang yang mengalah sudah merasakan atau memahami apa yang belum dirasakan dan dipahami oleh orang yang lebih muda, jadi bisa dimaknai sebagai memberi kesempatan dan waktu kepada yang muda. Ngalah menjadi tanda menghadap Allah dan mengucap syukur atas apa yang sudah diterimanya sehingga ngalah seharusnya terjadi dalam keadaan bahagia dan penuh suka cita, bukan amarah dan kedukaan.
Sikap ngalah tentu saja tidak selalu menyenangkan karena sering diterima sebagai paksaan ditempatkan sebagai si kalah. Keadaan ngalah juga sering diterima dengan gerutu sehingga sering terdengar ' Yo wiiiiiiiiiis, sing tuwa ngalah- ya sudaaah, saya harus mengalah karena lebih tua!" Atau justru malah menganggap orang yang lain "ora waras - tidak waras alias gila" Bisa jadi juga " aku perlu saiki dadi kenangapa kudu ngenteni tekan wekasane-saya mau sekarang jadi kenapa harus menunggu sampai akhir yang belum jelas" Kesemuanya sebenarnya keinginan untuk memenuhi kebutuhan sendiri- "mung menang butuhe dhewe". keinginan untuk pemenuhan keinginan sendiri bisa jadi wajar dan manusiawi.
Tetapi, ketika ngalah diterima sebagai pemahaman yang sangat tinggi sebagai kepasrahan dan penyerahan kita kepada Sang Pencipta, mungkin sikap ngalah itu menjadi sangat bernilai. Kepasrahan dan penyerahan kepada Sang Pencipta menunjukkan adanya kepercayaan kepada kuasa Sang Pencipta - Allah sekaligus tanda suka cita bahwa kita sudah diberi banyak hal selama ini dan pada akhirnya ketenangan dan kemuliaan lah yang akan kita terima. Ketenangan dan kemuliaan itu pasti tidak terjadi pada dunia orang mati, tetapi kita rasakan sebagai kedamaian saat ini dan pada waktu-waktu berikutnya pada saat kita kembali ngalah. Sikap ngalah dalam bentuk yang nyata adalah menyang Allah yaitu pada saat kita mati raga berdoa atau bermeditasi atau pada waktu kita menyatukan dunia kecil kita ke dalam dunia besar, mikrokosmos yang menyatu dengan makrokosmos.
Ngalah adalah menyang Allah, menuju Tuhan.
Sembah nuwun konjuk ing Gusti.
19 Desember 2009
WANG SINAWANG
Kanggone wong Jawa, tembung “wang-sinawang” kuwi nduweni makna kang jero. Wang-sinawang tegese padha-padha nyawang antarane A lan B, si A nyawang si B lan si A uga disawang dening si B. Si A nyawang yen uripe si B mesthi luwih kepenak dibandhingke karo uripe dhewe, semana uga si B nyawang yen si A uripe uga luwih kepenak katimbang dheweke. Apa sing disawang ing sanjabane dhewe ketoke luwih kepenak katimbang apa sing dirasakake dhewe.
Ananging kanggone wong sing wis ngerti babagan urip, adate wis mangerteni yen kabeh kuwi mung sawang-sinawang. Upamane, Si A nyambut gawe dadi guru lan si B makarya dadi pegawe kantor. Pakaryan si B bisa bae dianggep luwih kepenak katimbang si A amarga ora kudu mriksa PR murid, sandhange kerja apik, kantore nganggo AC. Ananging si B uga bisa kandha” wah dadi guru kaya A mesthi luwih kepenak, akeh dina prei saengga bisa dienggo plesir karo keluargane. Lha aku iki, pakayan saka kantor kala-kala takgawa mulih lan kudu takrampungake nang omah”.
Konglomerat, saka pangirane tukang becak, mesthi dianggep luwih kepenak, lha apa bae bisa dituku lan dianggo. Sawise nyawang si konglomerat, tukang becak banjur rumangsa yen uripe kok sarwa susah, kuluwarga mung bisa mangan sedina kamangka direwangi nggenjot becak kerja saka esuk tekan bengi.
Ananging, nalika ngerti ana wong sing ngemis lan uripe luwih rekasa, tukang becak banjur krasa yen nyatane uripe isih luwih kepenak katimbang wong sing ngemis. Sing dirasakake mbokmenawa rasa begja amarga isih ana sing dipangan sedina-dina katimbang sing luwih mlarat. “Apa sing dakrasakake isih luwih kepenak katimbang wong kae” mangkono batine.
Konglomerat mbakmawa malah krasa yen “ tukang becak kae uripe kok kepenak temen ya? Bisa turu neng njero becak kamangka nggone turu cilik tur atos, ora kaya aku tansah dioyak-oyak utang bank, ora disenengi dening anak buah, dikiwakake kanca sing ora seneng”. Urip sing taklakoni kok mung kaya mesin,” suarane batine.
Banjur, apa luwih apik yen ora perlu nyawang wong liya? Ora mangkono, Awake dhewe kudu nyawang wong liya supaya ngerti yen apa sing disawang kuwi ana sing apik lan elek, ana sing nyenengake lan gawe susah. Apa kang kasawang kudu bisa dienggo kanggo sinau yen sejatine urip kuwi mung sawang-sinawang. Apa bae sing gawe seneng lan susah kuwi gumantung piye carane ngrasakake seneng lan susah kuwi dhewe. Sega murah sing dipangan neng warung cilik bisa luwih enak katimbang panganan sing ditekakake saka manca yen anggone mangan bener-bener didhasari rasa ngelih. Turu neng njero becak bisa luwih kepenak katimbang nginep nang hotel bintang lima yen pancen ngantuk sing dirasakake. Rasa ngelihe wong sugih lan wong mlarat sejatine padha. Ngantuke wong mlarat padha karo apa sing dirasake konglomerat
sembah nuwun konjuk ing Gusti
Ananging kanggone wong sing wis ngerti babagan urip, adate wis mangerteni yen kabeh kuwi mung sawang-sinawang. Upamane, Si A nyambut gawe dadi guru lan si B makarya dadi pegawe kantor. Pakaryan si B bisa bae dianggep luwih kepenak katimbang si A amarga ora kudu mriksa PR murid, sandhange kerja apik, kantore nganggo AC. Ananging si B uga bisa kandha” wah dadi guru kaya A mesthi luwih kepenak, akeh dina prei saengga bisa dienggo plesir karo keluargane. Lha aku iki, pakayan saka kantor kala-kala takgawa mulih lan kudu takrampungake nang omah”.
Konglomerat, saka pangirane tukang becak, mesthi dianggep luwih kepenak, lha apa bae bisa dituku lan dianggo. Sawise nyawang si konglomerat, tukang becak banjur rumangsa yen uripe kok sarwa susah, kuluwarga mung bisa mangan sedina kamangka direwangi nggenjot becak kerja saka esuk tekan bengi.
Ananging, nalika ngerti ana wong sing ngemis lan uripe luwih rekasa, tukang becak banjur krasa yen nyatane uripe isih luwih kepenak katimbang wong sing ngemis. Sing dirasakake mbokmenawa rasa begja amarga isih ana sing dipangan sedina-dina katimbang sing luwih mlarat. “Apa sing dakrasakake isih luwih kepenak katimbang wong kae” mangkono batine.
Konglomerat mbakmawa malah krasa yen “ tukang becak kae uripe kok kepenak temen ya? Bisa turu neng njero becak kamangka nggone turu cilik tur atos, ora kaya aku tansah dioyak-oyak utang bank, ora disenengi dening anak buah, dikiwakake kanca sing ora seneng”. Urip sing taklakoni kok mung kaya mesin,” suarane batine.
Banjur, apa luwih apik yen ora perlu nyawang wong liya? Ora mangkono, Awake dhewe kudu nyawang wong liya supaya ngerti yen apa sing disawang kuwi ana sing apik lan elek, ana sing nyenengake lan gawe susah. Apa kang kasawang kudu bisa dienggo kanggo sinau yen sejatine urip kuwi mung sawang-sinawang. Apa bae sing gawe seneng lan susah kuwi gumantung piye carane ngrasakake seneng lan susah kuwi dhewe. Sega murah sing dipangan neng warung cilik bisa luwih enak katimbang panganan sing ditekakake saka manca yen anggone mangan bener-bener didhasari rasa ngelih. Turu neng njero becak bisa luwih kepenak katimbang nginep nang hotel bintang lima yen pancen ngantuk sing dirasakake. Rasa ngelihe wong sugih lan wong mlarat sejatine padha. Ngantuke wong mlarat padha karo apa sing dirasake konglomerat
sembah nuwun konjuk ing Gusti
JANMA TAN KENA KINIRA

Manungsa ing donya kuwi gumantung saka Gusti. Manungsa mung bisa ngrancang ananging kabeh kuwi ditemtokake dening Gusti. Urip, mati, jodho, rejeki asale saka Gusti, dadi begja-cilakane manungsa kuwi ora bisa dikira-kira, utawa luwih kawentar mawa ukara “janma tak kena kinira”. Ewon malah kepara yutan wong golek pagaweyan, ananging yen durung ditemtokake, ya ora bakal bisa nyambut gawe, dene ana wong sing lagi perlu pagaweyan dumadakan ditawani pakaryan. Lagi butuh panganan dumadakan ditawani panganan. Ana uga sing oleh pacangan sing cocog banget karo kepinginan. Wong sing pinginan ora mesthi bisa nampa apa kang dipinginake. Ana uga wong sing ora tau dianggep ora bisa apa-apa, dumadakan anggepan kuwi kleru amarga wong kuwi mumbul nasibe, malah ajarane ditutake yutan wong. Kabeh kang owah kuwi bisa dumadi, dene apa kang dumadi kuwi ya mung amarga kersane Gusti lan dudu saka pikirane manungsa.
Owah-owahan urip iku ora teka dumadakan ananging butuh wektu, nasibe manungsa dudu barang tiban, kaya lintang tiba saka langit utawa mung kaya nglumahke tangan.
Janma tan kena kinira bisa kawujudan kanthi cara kebak lakon, lan wektune uga suwe. Lakon kang dialami manungsa kuwi apike ora ucul saka cekelan ing uripe manungsa, yakuwi agama lan ajaran bener kang pungkasane tumuju marang Gusti sing gawe urip lang uga nguripi manungsa. Dhidhikan lan tuntunan saka wong tuwa sarta guru yen katindakake kanthi bener , sejatine uga ngarahake manungsa supaya bisa tumuju marang Gusti saengga sawayah-wayah
bisa ngundhuh kamulyan tanpa etungan. Ing carita carangan wayang kulit uga dicritakake kepiye Petruk sing wujude elek bisa ngalahake para dewa ing khayangan. Anggepan yen Petruk kuwi mung batur sing ora duwe daya, bisa owah sanalika. Omongane para dewa sing ngemu ancaman ora kaangep dening Petruk amarga Petruk dadi wong sing menangan.
Wulangan kang bisa dujupuk saka ukara janma tan kena kinira sejatine pituduh yen manungsa aja nglalekake Gusti sing tansah langgeng ing samubarang utawa marang piwulang bener sing ngajarake kabecikan. Ukara kuwi uga minangka tuntunan supaya manungsa ora ngiwakake wong liya. Yen manungsa lali marang Gusti lan piwulang sejati, kuwi tegese manungsa tansah urip ing petengan lan yen urip ing pepeteng, mesthi bae ora bisa ngerti lan ngrasakake endi sing bener lan endi sing kleru, kaya Rahwana sing nganggep Anoman mung saderma kethek lan ora duwe daya. Lan sing dadi pungkasan, Rahwana kalah amarga ngadohi bebener. Para satriya lan malah para dewa uga ngiwakake Petruk amarga wujude sing elek lan kalungguhan Petruk dadi bature para striya, dadi owah. Para satriya lan dewa malah kisinan amarga Petruk ndadekake para satriya lan dewa dadi dolanan, kaya bocah cilik dolanan montor-montoran
sembah nuwun konjuk ing Gusti
Owah-owahan urip iku ora teka dumadakan ananging butuh wektu, nasibe manungsa dudu barang tiban, kaya lintang tiba saka langit utawa mung kaya nglumahke tangan.
Janma tan kena kinira bisa kawujudan kanthi cara kebak lakon, lan wektune uga suwe. Lakon kang dialami manungsa kuwi apike ora ucul saka cekelan ing uripe manungsa, yakuwi agama lan ajaran bener kang pungkasane tumuju marang Gusti sing gawe urip lang uga nguripi manungsa. Dhidhikan lan tuntunan saka wong tuwa sarta guru yen katindakake kanthi bener , sejatine uga ngarahake manungsa supaya bisa tumuju marang Gusti saengga sawayah-wayah
bisa ngundhuh kamulyan tanpa etungan. Ing carita carangan wayang kulit uga dicritakake kepiye Petruk sing wujude elek bisa ngalahake para dewa ing khayangan. Anggepan yen Petruk kuwi mung batur sing ora duwe daya, bisa owah sanalika. Omongane para dewa sing ngemu ancaman ora kaangep dening Petruk amarga Petruk dadi wong sing menangan.
Wulangan kang bisa dujupuk saka ukara janma tan kena kinira sejatine pituduh yen manungsa aja nglalekake Gusti sing tansah langgeng ing samubarang utawa marang piwulang bener sing ngajarake kabecikan. Ukara kuwi uga minangka tuntunan supaya manungsa ora ngiwakake wong liya. Yen manungsa lali marang Gusti lan piwulang sejati, kuwi tegese manungsa tansah urip ing petengan lan yen urip ing pepeteng, mesthi bae ora bisa ngerti lan ngrasakake endi sing bener lan endi sing kleru, kaya Rahwana sing nganggep Anoman mung saderma kethek lan ora duwe daya. Lan sing dadi pungkasan, Rahwana kalah amarga ngadohi bebener. Para satriya lan malah para dewa uga ngiwakake Petruk amarga wujude sing elek lan kalungguhan Petruk dadi bature para striya, dadi owah. Para satriya lan dewa malah kisinan amarga Petruk ndadekake para satriya lan dewa dadi dolanan, kaya bocah cilik dolanan montor-montoran
sembah nuwun konjuk ing Gusti
Langganan:
Postingan (Atom)
